Petani sering melihat koloni kutu daun yang awalnya hanya bergerombol di satu tanaman, lalu tiba-tiba muncul kutu daun bersayap dan serangan menyebar ke tanaman lain. Mengapa bisa begitu? Ternyata kutu daun punya kemampuan istimewa: satu induk bisa melahirkan anak dengan bentuk berbeda sesuai keadaan lingkungan. Inilah salah satu rahasia mengapa kutu daun menjadi hama yang sangat sukses.
Berkembang Biak Tanpa Kawin dan Langsung Melahirkan
Pada musim tanam, kutu daun betina berkembang biak tanpa perlu kawin dan langsung melahirkan anak, bukan bertelur. Semua anaknya betina dan sama persis dengan induknya. Seekor induk bisa melahirkan 80 sampai 90 ekor anak. Bahkan, di dalam perut induk sudah ada calon anak yang juga sedang mengandung calon cucu. Itulah sebabnya populasi kutu daun bisa meledak hanya dalam beberapa hari.
Di negara empat musim, menjelang musim dingin kutu daun mulai menghasilkan jantan dan betina yang kawin lalu bertelur. Telur inilah yang bertahan melewati musim dingin. Di daerah tropis seperti Indonesia yang tidak punya musim dingin, banyak kutu daun terus berkembang biak tanpa kawin sepanjang tahun, sehingga serangannya bisa terjadi kapan saja.
Kapan Kutu Daun Menjadi Bersayap?
Dalam keadaan nyaman, induk melahirkan anak tanpa sayap yang tetap tinggal dan berkembang biak di tanaman yang sama. Namun, induk akan melahirkan anak bersayap jika:
- tanaman sudah terlalu padat oleh kutu daun,
- kualitas tanaman sebagai makanan menurun,
- ada ancaman musuh alami seperti kumbang koksi atau tawon parasit.
Kutu daun bersayap kemudian terbang ke tanaman lain dan memulai koloni baru. Anak bersayap dan tanpa sayap sebenarnya "kembar", tetapi bentuk dan perilakunya berbeda. Yang bersayap lebih aktif dan pandai mencium tanaman baru, sedangkan yang tanpa sayap lebih cepat dewasa dan lebih cepat beranak.
Menariknya, nasib anak ini sudah ditentukan sejak masih di dalam perut induk. Induklah yang merasakan keadaan sekitar, lalu "mengirim pesan" kepada calon anaknya.
Apa yang Diketahui Peneliti?
Dengan membaca bahan keturunan kutu daun, peneliti menemukan beberapa hal menarik:
- Kutu daun memiliki jumlah gen sekitar dua kali lipat lalat buah. Banyaknya "resep cadangan" ini diduga membuat kutu daun mudah menyesuaikan diri.
- Sebagian sistem kekebalan tubuh kutu daun hilang, kemungkinan karena ia hidup bersama bakteri "sahabat" di dalam tubuhnya.
- Perubahan cara berkembang biak dan munculnya sayap diatur oleh hormon dan sinyal dari otak, yang dipicu oleh panjang hari, kepadatan populasi, dan keadaan tanaman.
- Ada "saklar" di dalam sel yang bisa menyalakan atau mematikan gen tertentu sesuai keadaan lingkungan tanpa mengubah bahan keturunannya. Saklar inilah yang diduga membuat kutu daun bisa berubah wujud.
Peneliti juga sedang mencoba cara melemahkan kutu daun dengan "mematikan" gen penting di tubuhnya. Hasilnya cukup menjanjikan karena kutu daun menjadi kurang subur atau lebih banyak yang mati, walaupun efeknya masih sementara dan perlu terus disempurnakan.
Apa Artinya bagi Petani?
- Kendalikan sejak koloni masih kecil. Begitu kutu daun bersayap muncul, berarti koloni sudah padat dan siap menyebar ke tanaman lain.
- Pantau tanaman secara rutin, terutama pucuk dan bagian bawah daun muda. Kemunculan kutu daun bersayap adalah tanda bahaya.
- Jaga musuh alami. Kumbang koksi, larva lalat bunga, dan tawon parasit membantu menekan populasi. Penyemprotan berlebihan bisa membunuh musuh alami ini.
- Hindari pemupukan nitrogen berlebihan. Tanaman yang terlalu subur dan lunak disukai kutu daun sehingga populasinya cepat naik.
- Waspada sepanjang tahun. Di daerah tropis, kutu daun bisa berkembang biak terus-menerus tanpa jeda musim dingin.
Penutup
Kemampuan kutu daun beranak tanpa kawin dan berubah menjadi bersayap ketika keadaan memburuk membuatnya cepat berkembang dan mudah menyebar. Peneliti terus mempelajari "saklar" yang mengatur perubahan ini. Jika saklar tersebut bisa diganggu, penyebaran kutu daun dapat ditekan dengan cara yang lebih cerdas.
Sumber Rujukan:
Brisson, J. A., Jaquiery, J., Legeai, F., Le Trionnaire, G., & Tagu, D. (2016). Genomics of Phenotypic Plasticity in Aphids. Dalam H. Czosnek & M. Ghanim (Eds.), Management of Insect Pests to Agriculture: Lessons Learned from Deciphering their Genome, Transcriptome and Proteome (hlm. 65–96). Springer International Publishing Switzerland. https://doi.org/10.1007/978-3-319-24049-7_3

Posting Komentar untuk "Mengapa Kutu Daun Bisa Tiba-tiba Bersayap dan Cepat Menyebar"