Hormon pada Serangga Hama dan Manfaatnya untuk Pengendalian


Ulat yang berganti kulit beberapa kali, lalu berubah menjadi kepompong dan akhirnya menjadi kupu-kupu atau ngengat, adalah pemandangan yang biasa di kebun. Siapa yang mengatur semua perubahan itu? Jawabannya adalah hormon, yaitu zat pembawa pesan di dalam tubuh serangga. Memahami hormon serangga ternyata sangat berguna untuk mengendalikan hama.

Tiga Hormon Penting pada Serangga

  • Hormon ganti kulit – memerintahkan serangga untuk berganti kulit.
  • Hormon "awet muda" (hormon juvenil) – menjaga serangga tetap dalam bentuk muda, misalnya tetap menjadi ulat, selama masih dibutuhkan.
  • Hormon mirip insulin – menghubungkan kecukupan makanan dengan pertumbuhan dan kemampuan bertelur.

Bagaimana Ulat Berubah Menjadi Kepompong?

Prosesnya bisa diibaratkan seperti kerja sama dua "mandor":

  1. Ketika ulat sudah cukup besar, otaknya memberi perintah untuk memproduksi hormon ganti kulit.
  2. Jika pada saat itu hormon awet muda masih ada, ulat berganti kulit menjadi ulat yang lebih besar.
  3. Jika hormon awet muda sudah habis, ulat berganti kulit menjadi kepompong, lalu menjadi serangga dewasa.

Peneliti menemukan bahwa di dalam sel ada "penerima pesan" khusus untuk masing-masing hormon. Ketika penerima pesan ini dibuat tidak berfungsi, serangga gagal berganti kulit, menjadi kepompong terlalu cepat, atau berubah menjadi bentuk campuran yang tidak sempurna lalu mati.

Hormon dan Kemampuan Bertelur

Sebelum bertelur, serangga betina harus membuat kuning telur sebagai bekal makanan bagi calon anaknya. Proses ini juga diatur oleh hormon. Pada belalang dan kecoak, hormon awet muda yang memerintahkan pembuatan kuning telur. Pada nyamuk, pembuatan kuning telur baru dimulai setelah nyamuk mengisap darah.

Serangga juga "berhitung" soal makanan. Pada kumbang hama gudang, betina yang kelaparan sama sekali tidak membuat kuning telur. Setelah mendapat makanan cukup, barulah hormon mirip insulin memerintahkan produksi telur. Hal yang sama terjadi pada kecoak. Artinya, serangga hanya bertelur banyak jika makanannya melimpah.

Pada serangga jantan, hormon mengatur perkembangan alat kelamin, pelepasan sperma, dan pembuatan cairan yang ikut dikirim saat kawin.

Manfaatnya untuk Pengendalian Hama

Karena hormon mengatur hampir seluruh tahap hidup serangga, hormon menjadi sasaran yang sangat menarik untuk pengendalian:

  • Zat pengatur tumbuh serangga. Ini adalah golongan insektisida yang meniru atau mengganggu hormon serangga, sehingga hama gagal berganti kulit, gagal menjadi dewasa, atau telurnya tidak menetas. Contoh bahan aktif yang sudah lama dipakai adalah piriproksifen dan metopren. Golongan ini umumnya bekerja lebih lambat, tetapi lebih aman bagi manusia dan hewan ternak, karena manusia dan hewan tidak memiliki hormon serangga.
  • Mencari bahan aktif baru. Peneliti sudah membuat alat uji di laboratorium untuk menyaring zat-zat baru yang bisa meniru atau menghambat hormon serangga.
  • "Mematikan" gen hormon. Peneliti juga mengembangkan cara membungkam gen yang dibutuhkan hama untuk membuat atau menerima hormon, sehingga hama gagal tumbuh atau tidak bisa bertelur.

Apa Artinya bagi Petani?

  • Perhatikan cara kerja insektisida pengatur tumbuh. Insektisida jenis ini paling efektif disemprotkan saat hama masih muda, misalnya ulat kecil atau nimfa, bukan saat hama sudah dewasa.
  • Jangan berharap hama langsung mati. Hasilnya baru terlihat setelah hama gagal berganti kulit, biasanya beberapa hari kemudian.
  • Gunakan secara bergiliran dengan insektisida dari golongan lain agar hama tidak cepat kebal.

Penutup

Hormon mengatur kehidupan serangga sejak di dalam telur, saat berganti kulit, menjadi kepompong, hingga saat bertelur. Dengan memahami cara kerja hormon ini, ilmuwan dapat merancang insektisida yang lebih tepat sasaran dan lebih aman bagi manusia serta lingkungan.


Sumber Rujukan:

Palli, S. R. (2016). Hormonal Regulation of Development and Reproduction. Dalam H. Czosnek & M. Ghanim (Eds.), Management of Insect Pests to Agriculture: Lessons Learned from Deciphering their Genome, Transcriptome and Proteome (hlm. 97–114). Springer International Publishing Switzerland. https://doi.org/10.1007/978-3-319-24049-7_4

Posting Komentar untuk "Hormon pada Serangga Hama dan Manfaatnya untuk Pengendalian"