Air Liur Kutu Daun, Senjata Rahasia Saat Mengisap Cairan Tanaman


Kutu daun, kutu kebul, dan wereng termasuk hama yang sulit dikendalikan. Salah satu sebabnya, cara makan mereka tersembunyi. Berbeda dengan ulat yang memakan daun sampai bolong, hama pengisap menusukkan alat mulutnya yang seperti jarum halus jauh ke dalam batang atau tulang daun, lalu mengisap cairan dari pembuluh tanaman. Dari luar, kerusakannya sering tidak terlihat jelas.

Para peneliti menemukan bahwa kunci keberhasilan hama ini ada pada air liurnya.

Dua Kerugian Akibat Hama Pengisap

  1. Mencuri makanan tanaman. Cairan yang diisap adalah cairan gula hasil fotosintesis, sehingga tanaman lemah dan hasil panen turun.
  2. Menularkan virus. Banyak penyakit virus tanaman disebarkan oleh hama pengisap, dan kerugiannya sering jauh lebih besar daripada akibat isapannya.

Perjalanan Jarum Kutu Daun

Sebelum makan, kutu daun "memeriksa" tanaman dengan antena dan ujung mulutnya. Ia mencari tulang daun karena di situlah letak pembuluh cairan. Alat mulutnya berupa jarum halus berisi dua saluran: satu untuk mengeluarkan air liur dan satu lagi untuk mengisap makanan.

Jarum itu tidak menembus sel secara langsung, tetapi menyusup di sela-sela sel sambil sesekali "mencicipi" isi sel di sekitarnya, seperti orang yang mencari jalan. Diduga, kutu daun menggunakan rasa manis dan tingkat keasaman cairan sebagai penunjuk arah menuju pembuluh makanan. Kalau penunjuk arah ini bisa dikacaukan, kutu daun akan kesulitan makan.

Dua Jenis Air Liur, Dua Tugas

1. Air liur kental: membuat "selang pelindung"

Sebelum menusuk, kutu daun meneteskan air liur kental di permukaan daun yang langsung mengeras. Sepanjang jarumnya masuk, air liur ini terus keluar dan membentuk semacam selang pelindung di sekeliling jarum. Selang ini tetap tertinggal di dalam tanaman walaupun kutu daun sudah pergi. Fungsinya untuk menyamarkan keberadaan kutu daun dan mencegah cairan tanaman bocor, karena kebocoran bisa memicu tanaman bertahan.

2. Air liur encer: mencegah "saluran ditutup"

Begitu jarum sampai di pembuluh makanan, kutu daun mengeluarkan air liur encer. Secara alami, tanaman yang pembuluhnya terluka akan menyumbat saluran itu, mirip darah yang membeku saat kita terluka. Air liur encer diduga mencegah penyumbatan ini, sehingga kutu daun bisa terus mengisap berjam-jam.

Apa Isi Air Liur Kutu Daun?

Dengan alat modern, peneliti menemukan berbagai zat di dalam air liur kutu daun, antara lain:

  • zat yang melumpuhkan pertahanan tanaman,
  • zat yang mengikat kapur (kalsium) agar pembuluh tanaman tidak tersumbat,
  • zat yang membantu menetralkan racun tanaman dan mengeraskan selang pelindung,
  • bahan utama penyusun selang pelindung, yang ditemukan pada banyak jenis kutu daun.

Yang mengejutkan, air liur kutu daun juga mengandung zat dari bakteri yang hidup di dalam tubuh kutu daun. Ketika zat ini masuk ke tanaman, tanaman justru "waspada" dan kutu daun yang makan di situ menjadi kurang berkembang. Artinya, tanaman sebenarnya bisa mengenali kutu daun lewat jejak bakteri tersebut.

Peneliti juga menemukan bahwa isi air liur berbeda-beda antarjenis kutu daun dan antara kutu daun yang ganas dan yang kurang ganas. Ini bisa menjelaskan mengapa satu varietas tahan terhadap kutu daun tertentu tetapi tidak terhadap kutu daun lain.

Apa Artinya bagi Petani?

  • Kerusakan hama pengisap sering tidak terlihat. Periksa bagian bawah daun, pucuk, dan pangkal batang secara rutin. Jangan menunggu tanaman layu atau menguning.
  • Waspadai penularan virus. Sedikit saja hama pengisap bisa menularkan virus. Pengendalian sejak dini lebih penting daripada menunggu populasinya banyak.
  • Insektisida makin dibatasi dan hama cepat kebal. Karena itu, para peneliti sedang mengembangkan cara baru yang bekerja dengan "mematikan" kemampuan hama membuat air liur, sehingga hama tidak bisa makan. Cara ini hanya mengenai hama sasaran dan lebih ramah lingkungan.

Penutup

Air liur adalah senjata rahasia kutu daun. Dengan air liur kental, ia membuat selang pelindung untuk bersembunyi. Dengan air liur encer, ia mencegah tanaman menutup saluran makanannya. Memahami senjata ini membuka jalan bagi cara pengendalian kutu daun, wereng, dan kutu kebul yang lebih cerdas di masa depan.


Sumber Rujukan:

Rao, S. A. K., Carolan, J. C., & Wilkinson, T. L. (2016). Proteomic Insights into the Hidden World of Phloem Sap Feeding. Dalam H. Czosnek & M. Ghanim (Eds.), Management of Insect Pests to Agriculture: Lessons Learned from Deciphering their Genome, Transcriptome and Proteome (hlm. 49–62). Springer International Publishing Switzerland. https://doi.org/10.1007/978-3-319-24049-7_2

Posting Komentar untuk "Air Liur Kutu Daun, Senjata Rahasia Saat Mengisap Cairan Tanaman"