Tiga Jenis Wereng Padi
- Wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens) – hama padi paling merusak di Asia.
- Wereng punggung putih (Sogatella furcifera).
- Wereng cokelat kecil (Laodelphax striatellus) – lebih berbahaya sebagai penular virus.
Wereng batang cokelat dan wereng punggung putih hidup sepanjang tahun di daerah tropis seperti Indonesia. Keduanya menjadi hama yang jauh lebih serius sejak penanaman varietas unggul dengan pupuk dalam jumlah besar pada tahun 1960-an. Padi yang dipupuk berlebihan, terutama pupuk nitrogen, menjadi makanan yang sangat disukai wereng.
Bagaimana Wereng Merusak Padi?
1. Menularkan virus
- Penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa ditularkan oleh wereng batang cokelat.
- Penyakit kerdil bergaris hitam ditularkan oleh wereng punggung putih.
- Penyakit bergaris (daun bergaris kuning) ditularkan oleh wereng cokelat kecil.
2. Mengisap sampai padi mengering ("hopperburn")
Wereng batang cokelat suka tinggal di pangkal batang padi. Setelah menjadi wereng bersayap, ia turun ke pangkal rumpun dan berkembang biak di sana. Serangannya biasanya berkelompok di beberapa titik dalam satu petak. Jika jumlahnya sangat banyak, padi kehilangan cairan, mengering, menguning kecokelatan seperti terbakar, lalu mati. Kerusakan ini dikenal dengan istilah hopperburn yang menyebabkan puso, biasanya terjadi menjelang panen.
Terdapat jarak waktu antara datangnya wereng dan terjadinya puso, karena wereng perlu berkembang biak selama 2–3 keturunan. Jarak waktu inilah kesempatan emas untuk mengamati dan mengendalikan. Jika perlu disemprot, lakukan saat sebagian besar wereng masih nimfa (anakan) muda, karena nimfa tua mengisap paling banyak dan puso biasanya mulai muncul pada saat itu.
Wereng punggung putih lebih sering menyerang padi muda. Bekas tusukannya saat bertelur menimbulkan bercak kuning-cokelat di batang, dan serangannya pada malai muda membuat gabah menjadi cokelat dan hampa.
Musuh Alami Wereng
Di sawah ada banyak "pasukan" pemakan wereng, antara lain laba-laba, tawon parasitoid kecil yang memarasit telur wereng, serangga parasit lain, cacing parasit, serta jamur seperti Beauveria dan Metarhizium. Penyemprotan insektisida yang berlebihan bisa membunuh pasukan ini, sehingga wereng justru lebih mudah bertambah lebih banyak.
Varietas Tahan Wereng
Menanam varietas tahan wereng adalah cara terpenting di daerah tropis. Pada varietas tahan, wereng tetap hinggap dan menusuk, tetapi tidak bisa mengisap dengan lancar. Tanaman tahan menutup saluran makanannya di tempat wereng menusuk. Wereng pun pergi, dan yang bertahan banyak yang mati atau bertelur sedikit.
Sudah ditemukan setidaknya 28 gen tahan wereng pada padi budidaya dan padi liar, dan beberapa di antaranya sudah dipelajari secara mendalam. Masalahnya, wereng bisa beradaptasi dan muncul biotipe baru yang mampu mematahkan ketahanan varietas. Petani Indonesia sudah mengalaminya sejak tahun 1970-an, ketika varietas tahan harus terus diganti.
Wereng Makin Kebal Insektisida
Insektisida sudah dipakai lebih dari 60 tahun untuk mengendalikan wereng, dan wereng sudah kebal terhadap hampir semua golongan yang pernah dipakai. Sekitar tahun 1990-an, insektisida golongan baru seperti imidakloprid dan fipronil sangat ampuh. Namun, karena dipakai berlebihan di seluruh Asia, terjadilah ledakan besar wereng batang cokelat pada tahun 2005. Kini wereng batang cokelat sangat kebal terhadap imidakloprid, sedangkan wereng punggung putih kebal terhadap fipronil.
Kekebalan ini terjadi karena tubuh wereng memproduksi lebih banyak zat penetral racun, atau karena sasaran kerja insektisida di tubuh wereng berubah sehingga insektisida tidak lagi bisa menempel.
Wereng Bisa Terbang Ratusan Kilometer
Pada tahun 1967, ditemukan banyak wereng di sebuah kapal di tengah laut, lebih dari 500 km dari daratan. Ternyata wereng bisa terbang sangat jauh dengan bantuan angin. Setiap tahun, wereng bermigrasi dari Asia Tenggara ke Tiongkok, Korea, dan Jepang. Akibatnya, wereng dari berbagai negara bercampur, dan wereng yang kebal insektisida di satu tempat bisa terbawa ke tempat lain.
Apa yang Bisa Dilakukan Petani?
- Tanam varietas tahan wereng yang dianjurkan dan gilir varietas secara berkala.
- Tanam serempak dalam satu hamparan untuk memutus siklus wereng.
- Pupuk berimbang, jangan berlebihan pupuk nitrogen (urea).
- Amati pangkal rumpun padi secara rutin, minimal seminggu sekali. Jangan menunggu padi menguning.
- Semprot hanya bila perlu, saat populasi melewati ambang dan wereng masih nimfa muda. Arahkan semprotan ke pangkal batang.
- Gilir insektisida dari golongan yang berbeda. Jangan memakai satu bahan aktif terus-menerus.
- Lindungi laba-laba dan musuh alami lain di sawah.
- Cabut dan musnahkan rumpun bergejala kerdil agar tidak menjadi sumber virus.
Penutup
Wereng tetap menjadi ancaman serius bagi padi. Penelitian yang ada sudah memetakan bahan keturunan wereng, menemukan banyak gen tahan pada padi, dan mengungkap penyebab kekebalan wereng terhadap insektisida. Namun, di lapangan, kunci keberhasilan tetap pada pengendalian terpadu seperti varietas tahan, tanam serempak, pemupukan berimbang, pengamatan rutin, penyemprotan yang bijak, dan menjaga musuh alami.
Sumber Rujukan:
Noda, H. (2016). Management of Rice Planthoppers Through Recent Advanced Research. Dalam H. Czosnek & M. Ghanim (Eds.), Management of Insect Pests to Agriculture: Lessons Learned from Deciphering their Genome, Transcriptome and Proteome (hlm. 253–290). Springer International Publishing Switzerland. https://doi.org/10.1007/978-3-319-24049-7_11

Posting Komentar untuk "Cara Mengendalikan Hama Wereng Padi"