Imago Parasitoid (Parasitoid Dewasa)

parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid parasitoid
Imago Parasitoid

Manfaat Mempelajari 

  • Mengetahui  ciri-ciri morfologi (termasuk fisiologi dan anatomi dalam)
  • Mengetahui ciri-ciri biologi parasitoid dewasa, seperti efektifitas parasitoid (searching capacity), melingkupi kemampuan memilih inang dan menemukan inang
  • Mengetahui cara penanganan parasitoid seperti pemeliharaan, pembiakan massal dan pelepasan

Searching Capacity

Searching capacity imago parasitoid ditentukan oleh kombinasi berbagai kualitas, yang terdiri dari faktor fisiologis (fungsi-fungsi organ tubuh) dan psikologis (kemauan dalam menentukan sikap). Searching capacity ditentukan oleh kemampuan  atau daya bergerak (mampu menjangkau jarak jauh, dll), kemampuan atau daya bertahan hidup (survival), kemampuan atau daya persepsi (pemahaman terhadap inang), dan keagresifan serta persistensi. Searching capacity lebih penting daripada kapasitas produksi, hal ini karena searching capacity menentukan laju peningkatan produksi, dan cepat tidaknya pengendalian inang. Selain itu, searching capacity juga menentukan rata-rata populasi inang atau posisi keseimbangan (posisi equilibrium).

Ciri-ciri Biologi Parasitoid Dewasa

Periode sebelum kawin

Perkawinan pada parasitoid dapat terjadi setelah betina muncul, sedangkan jantan pada umumnya muncul terlebih dahulu. Beberapa parasitoid memiliki perilaku khusus, seperti pada Ichneumonidae yang terdapat individu yang tidak kawin jika betina yang muncul tidak segera melakukan perkawinan. Selain itu ada juga parasitoid yang memiliki periode premating seperti pada Fopius oophilus yang tidak kawin sebelum spermatozoa pindah ke vesicular seminalis (hal itu butuh 5-6 hari).

Periode kawin

Periode kawin pada parasitoid ada yang berlangsung seperti serangga lain (umum), namun juga ada yang khusus seperti perilaku parasitoid jantan yang terbang bergerombol, sedangkan betina tetap pada vegetasinya. Pada Hymenoptera terdapat perilaku seperti cukup sekali kawin, dalam hal ini parasitoid betina akan menolak jantan lain jika sudah dibuahi, contohnya pada Carapractus cinctus. Disatu sisi, terdapat juga parasitoid yang membutuhkan kawin lebih dari sekali, seperti pada Spalangia drosophilae.

Periode kopulasi pada perilaku betina

Dipercaya bahwa adanya sperma dalam spermatika berpengaruh pada psikologi betina dewasa. Betina yang tidak kawin dapat menjadi hiperparasit. Kopulasi pada imago parasitoid juga dipengaruhi oleh cahaya, hal ini seperti pada perilaku lalat yang meletakkan telur pada kegelapan.

Periode pra oviposisi

Periode pra oviposisi tidak selalu terjadi pada parasitoid dewasa. Pada umumnya faktor yang mempengaruhi periode pra oviposisi ini adalah ketersediaan nutrisi yang dibutuhkan. pada Hymenoptera, terdapat dua jenis parasitoid yaitu Provigenic dan Synovigenic. Pada tipe provigenic parasitoid betina telah memiliki telur-telur yang sudah matang ketika keluar dari pupa, sedangkan pada Synovigenic belum memiliki atau sedikit telur yang matang. Synovigenic dibagi menjadi dua tipe yaitu Autogenous (tanpa makan, telur dapat matang), dan Unautogenous (sebelum makan, telur tidak matang).

Nutrisi parasitoid dewasa

Seperti diketahui jika terdapat beberapa jenis parasitoid yang membutuhkan nutrisi untuk menjadikan telur menjadi matang. Nutrisi ini terutama berupa protein. Sumber makanan umumnya diperoleh dari nektar dan embun tepung maupun cairan tubuh inang (host feeding). Lokasi sumber makanan memiliki pengaruh yang kuat pada persebaran  dan keefektifan parasitoid. Host feeding (pengambilan cairan tubuh inang) dilakukan sekitar sepertiga dari seluruh jenis parasitoid, bahkan pada inang yang tersembunyi, parasitoid tertentu membuat feeding tube untuk tetap dapat melakukan host feeding.

Ovisorption

Ovisorption (Ovisorpsi) adalah sebuah proses yang ditunjukkan oleh beberapa parasitoid (terutama Chalcidoidea) di mana telur-telur yang belum diletakkan, dicerna dalam saluran telur dan komponen nutrisi mereka didaur ulang. Ovisorption disebabkan karena tidak mendapatkan makanan/inang dalam waktu yang lama. Terdapat dua sekuen produksi telur parasitoid, pertama adalah siklik (ovigenesis-ovisorption-ovigenesis), dan linear (ovigenesis-ovulation-ovipotition). Terdapat dua teori dalam peristiwa penyerapan telur ini, pertama telur diserap sempurna tanpa bekas, dan teori kedua adalah telur diserap, dan kulitnya dikeluarkan dari tubuh.

Cara dan tempat oviposisi

Ada tiga jenis cara oviposisi pada parasitoid, yaitu oviposisi terpisah dengan inang, oviposisi pada inang, dan oviposisi dalam tubuh inang.

1. Oviposisi terpisah dengan inang
Pada Diptera, kelompok Tachinid & Acrocerids ada yang meletakkan telur secara random. Parasitoid yang melakukan jenis oviposisi ini ada yang memiliki telur microtype yang dapat termakan oleh inang, dan jika telur berukuran normal, telur dapat menetas menjadi planidium (larva parasitoid yang punya perekat pada abdomen) dan dapat melekat pada inang. Pada beberapa Hymenoptera, seperti pada Perilampidae memiliki planidia yang dapat untuk menempelkan diri juga, sedangkan pada Eucharitidae dapat menghasilkan ratusan larva aktif yang dapat menempel pada semut pekerja dan terbawa ke koloni semut untuk kemudian melakukan parasitasi. Pada Bombyliidae, Dexiidae, dan Acroceridae dilaporkan dapat meletakkan telur sambil terbang.

2. Oviposisi pada inang
Larva parasitoid pada tipe ini dapat hidup internal maupun eksternal. Telur parasitoid jenis ini seringkali memiliki material pelekat atau bertangkai (stalked/pedicel) yang kemudian diselipkan pada integumen. Pada Tiphiidae dan Euplectus, parasitoid ini mampu membersihkan telur yang sebelumnya ditempelkan oleh parasitoid lain. 

3. Oviposisi dalam tubuh inang
Oviposisi ini dapat dilakukan terhadap inang yang terlindungi, seperti pada penggerek dan pupa yang dilindungi kokon, dan juga inang yang tidak terlindungi seperti ulat, telur dan pupa tanpa kokon. Peletakan telur dalam tubuh inang umumya bebas, namun beberapa ada yang sangat spesifik, seperti Triclistus yang meletakkan pada ganglion, dan Caraphractus cinctus yang meletakkan pada midgut.

Penggunaan ovipositor

Pada umumnya parasitoid memiliki ukuran telur yang kecil, namun ada beberapa yang berukuran cukup besar (lebih besar dari ukuran ovipositor). Telur ini akan keluar melalui ovipositor seperti keluarnya pasir pada jam pasir. Contoh parasitoid jenis ini adalah Habrocytus cerealella.

Pelumpuhan inang

Salah satu strategi parasitoid dalam mendapatkan inang adalah dengan menyuntikkan racun, seperti pada Bracon hebetor, dll. Efek paralisis (pelumpuhan) dapat terjadi segera seperti pada Perisierola emigrata, atau tertunda seperti pada pelumpuhan Phytomyza atricornis oleh Solenotus begini. Efek paralisis dapat berlangsung sementara, maupun permanen. Saat ini masih minim informasi terkait racun parasitoid.

Alat reproduksi betina parasitoid

Terdapat setidaknya tiga bagian yang perlu diketahui, yaitu :
1. Ovariol
Tempat produksi telur. Jumlah pada parasitoid dapat bermacam-macam. Kematangan telur kadangkala tidak bersamaan
2. Calyx
Tempat bermuaranya telur dari ovariol dan sperma di spermatika 
3. Venom gland
Bagian serangga yang dapat digunakan untuk melumpuhkan inang

Pengaturan nisbah kelamin (Sex Ratio)

Parasitoid dibedakan menjadi  3 jenis berdasarkan partenogenesisnya :
1. Thelytoky (Uniparental atau impartenate) adalah parasitoid yang tidak membutuhkan dibuahi oleh jantan, dan menghasilkan keturunan semuanya betina
2. Deuterotoky adalah parasitoid yang tidak membutuhkan dibuahi oleh jantan, dan menghasilkan keturunan betina atau jantan
3. Arrhenotoky (umumnya pada Hymenoptera) adalah parasitoid yang apabila dibuahi oleh jantan akan menghasilkan keturunan betina, dan bila tanpa dibuahi akan menghasilkan keturunan jantan.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keturunan pada parasitoid tipe Arrhenotoky, yang terdiri dari faktor Ekstrinsik yaitu perilaku perkawinan lebih dari sekali, mortalitas, dll, dan Intrinsik yaitu jumlah telur yang diletakkan, jumlah telur yang matang, dan kecenderungan polyembryoni yang berbeda.

Perilaku pemilihan inang

Interaksi antara parasitoid dan inang dapat tercapai jika kedua spesies tersebut bertemu dalam waktu, tempat dan ekologi yang sama. Terdapat beberapa hal yang harus terpenuhi pada proses pemilihan inang, yaitu faktor fisik (inang dapat dijangkau), fisiologi (kesesuaian tubuh inang), psikologi (parasitoid dapat mengenali), dan nutrisi (nutrisi inang sesuai). Terdapat dua pendapat yang paling umum dipakai dalam proses pemilihan inang, yaitu pendapat Salt (1935), dan Doutt (1959). 
Salt (1935) : Seleksi ekologi, Seleksi psikologi, dan Seleksi Fisiologi
Doutt (1959) : Penemuan Habitat Inang, Penemuan Inang, Penerimaan Inang, dan Kesesuaian Inang

Proses pemilihan inang

Terdapat 4 tahap dalam pemilihan inang, yaitu Host habitat finding, Host finding, Host Acceptance. dan Host suitability.

1. Host Habitat Finding (Penemuan habitat inang)
Parasitoid, pada pada awalnya tertarik pada habitat tertentu. Perilaku pencarian habitat ini juga dipengaruhi oleh perkembangan ovary. Beberapa tanaman tertentu memiliki daya tarik kuat terhadap parasitoid.

2. Host Finding (Penemuan Inang)
Pada umumnya, sebelum parasitoid menemukan inang, parasitoid akan melakukan pencarian secara random. Input rangsangan seperti sentuhan dan bau tertentu dapat menjadi acuan parasitoid dalam menemukan inang. Kadang-kadang sulit menentukan apakah parasitoid menemukan inang karena input bau atau sentuhan. Selain input tersebut, indikator yang dapat digunakan  oleh parasitoid dalam menemukan inang adalah kotoran, lorong atau korokan inang, dan kerusakan pada tanaman.

3. Host Acceptance (Penerimaan Inang)
Hal ini berkaitan dengan psikologi parasitoid. Metode yang dilakukan dapat berupa pengujian dengan antena (dumming), pengujian dengan ujung abdomen (tapping), dan menusukkan ovipositor (drilling). Ovipositor sendiri bukan hanya sebagai alat bertelur bagi serangga, namun juga dapat menjadi alat detektor seperti untuk mengetahui apakah suatu inang telah diparasit atau belum. Pengenalan inang dapat diperoleh dari bau inang,pergerakan inang, detak jantung inang, dan spor effect (tanda dari parasitoid sebelumnya).

4. Host Suitability (Kesesuaian Inang)
Tidak semua inang yang ditemukan layak untuk perkembangan parasitoid. Hal inilah yang menjadikan parasitoid harus menentukan inang yang sesuai. Tidak selalu imago yang melakukan proses ini, beberapa imago parasitoid hanya menentukan habitat inang untuk kemudian larva parasitoid yang akan menentukan inang yang sesuai.

0 Comments