Pada 12 Agustus 2025, peserta Short Course Climate-Smart Agriculture menghadiri Crawford Fund Annual Conference 2025 di Parliament House, Canberra. Tema konferensinya adalah "Progress and Prospects for Climate-Resilient Agrifood Systems: Actionable Recommendations for Policymakers and Practitioners". Tulisan ini merangkum sesi-sesi tentang ketahanan pangan, dampak iklim, dan jalan menuju emisi nol bersih. Sesi tentang gender saya tuliskan terpisah.
Keynote: Ketahanan Pangan Universal di Tengah Iklim yang Memburuk
Glenn Denning (Columbia University) membuka konferensi dengan gambaran kondisi gizi dunia:
- 673 juta orang kelaparan (8,2%).
- 150 juta balita stunting dan 43 juta balita wasting.
- Lebih dari 2 miliar orang kekurangan zat gizi mikro, sementara 2,5–3 miliar orang kelebihan berat badan.
- 2,6 miliar orang (32%) tidak mampu membeli pola makan sehat, dan sekitar 4 miliar orang mengonsumsi makanan yang kurang sehat.
Sistem pangan adalah korban sekaligus penyumbang perubahan iklim, menyumbang sekitar sepertiga emisi gas rumah kaca melalui deforestasi, degradasi lahan, eksploitasi air, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Denning menawarkan strategi intensifikasi berkelanjutan: tingkatkan hasil di lahan yang ada, pertahankan hasil dengan jejak lingkungan lebih kecil, pulihkan lahan terlantar, hentikan budidaya di lahan paling terdegradasi, dan lindungi ekosistem alami yang tersisa. Kesimpulannya, ketahanan pangan universal bisa dicapai, tetapi butuh pendekatan lintas sektor dan multi-institusi, kelembagaan yang lebih sesuai tujuan, dan investasi R&D yang lebih besar. Ia juga menekankan bahwa sains, konteks, kebutuhan, dan hak, bukan ideologi, yang seharusnya membentuk keputusan kebijakan.
Dampak Iklim pada Sistem Pangan dan Air di Asia dan Afrika
Aditi Mukherji (ILRI/CGIAR) merangkum temuan IPCC AR6: suhu ekstrem, hujan lebat, dan kekeringan pertanian meningkat sejak 1950-an. Sebagian besar tanaman di sebagian besar wilayah telah mengalami penurunan hasil akibat perubahan iklim selama 50 tahun terakhir, dan penurunannya akan semakin besar secara non-linear pada tingkat pemanasan yang lebih tinggi. Sebagian besar ternak diproyeksikan mengalami "cekaman ekstrem", dan kapasitas fisik bekerja di luar ruangan akan turun signifikan, terutama di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Karena emisi terjadi di sepanjang rantai nilai, aksi mitigasi pada peternakan dan pupuk perlu dirancang agar juga memberi manfaat adaptasi.
Bisakah Kita Memberi Makan Dunia dengan Emisi Nol Bersih?
Prof. Richard Eckard (University of Melbourne) menjelaskan bahwa pertanian menyumbang 12–14% emisi global, dan sistem pangan secara keseluruhan sekitar 26%. Emisi pertanian terdiri dari metana (54%, dari ternak, padi, dan kotoran), dinitrogen oksida (28%, dari pupuk, residu, legum, dan kotoran), serta CO₂ (18%, dari kapur dan energi). Beberapa poin pentingnya:
- Penyerapan karbon di tanah dan pohon penting, tetapi tidak bisa berlangsung tanpa batas.
- Mengurangi jumlah ternak bukan solusi sederhana, karena ternak menopang ketahanan pangan dan penghidupan di wilayah berpendapatan rendah. Hanya kurang dari 16% penduduk dunia yang punya pilihan atas pola makannya.
- Pupuk nitrogen menopang sekitar 48% populasi dunia, sehingga yang perlu ditingkatkan adalah efisiensinya, bukan sekadar mengurangi penggunaannya.
- Opsi mitigasi meliputi aditif pakan dan inhibitor metana, pemuliaan, biogas, biochar, energi terbarukan, inhibitor nitrifikasi, pengelolaan air dan kotoran, serta budidaya padi rendah emisi. Total potensinya sekitar 45%.
Padi Rendah Emisi
Dr. Ando M. Radanielson menyoroti padi, yang memberi makan sekitar 4 miliar orang (56% populasi dunia) dan menempati sekitar 10% lahan tanam, tetapi juga menjadi sumber metana penting. Komitmen Global Methane Pledge menargetkan pengurangan 30% emisi metana pada 2030. Praktik padi rendah emisi beserta estimasi manfaatnya (Nguyen et al., 2019) meliputi:
- Alternate Wetting and Drying (AWD) dan pemupukan efisien: rata-rata menurunkan emisi sekitar 33%. AWD sendiri menghemat air 15–30%, menurunkan metana sekitar 50%, dengan perubahan hasil 0–10%.
- Varietas umur pendek (hingga 7%), pengaturan waktu pembenaman jerami (sekitar 10%), dan jumlah jerami yang ditinggalkan (hingga 15%).
Tantangannya adalah menentukan kesesuaian lokasi AWD (misalnya dengan MapAWD) dan menyediakan insentif seperti kredit karbon. Hal ini relevan bagi Indonesia sebagai salah satu produsen dan konsumen beras terbesar di dunia.
Sistem Silvopastura
Dr. Tyron Venn (UQ) menyampaikan bahwa emisi peternakan mencapai 14–18% emisi global dan sekitar 10% emisi Australia. Sistem silvopastura, yaitu integrasi pohon dan padang penggembalaan, disebut sebagai strategi paling menjanjikan untuk menurunkan emisi bersih peternakan. Selain menyerap karbon, sistem ini memberi pendapatan dari kayu, melindungi keanekaragaman hayati, meningkatkan kualitas pakan, menurunkan suhu dan kecepatan angin (meningkatkan angka kelahiran dan bobot pedet), memperbaiki siklus hara dan tanah, serta mengurangi limpasan dan erosi. Pada studi regrowth spotted gum di Queensland selatan, tambahan simpanan karbon selama 100 tahun mencapai sekitar 36 ton C per hektare (133 ton CO₂/ha).
Informasi Iklim untuk Perencanaan Usaha Tani
Dr. Leanne Webb dan Dr. Rebecca Darbyshire (CSIRO) membandingkan dua platform: My Climate View di Australia, yang memungkinkan petani memilih lokasi dan komoditas lalu melihat proyeksi risiko iklim spesifik (misalnya akumulasi suhu dingin, embun beku saat berbunga, dan hari terbakar matahari untuk apel), dan Van-KIRAP di Vanuatu, yang membangun kapasitas teknis dan studi kasus untuk kopi, kakao, pisang, kava, kelapa, dan umbi-umbian. Keduanya mendorong penggunaan informasi iklim berbasis sains yang terstandar untuk perencanaan, dengan berbagai skenario emisi dan horizon waktu (2030, 2050).
Ketangguhan Sistem Pangan di Kepulauan Pasifik
Prof. Graham Sem (University of Papua New Guinea) menguraikan ancaman bagi negara kepulauan Pasifik, yaitu kenaikan muka laut, intrusi air asin, hujan tidak menentu, dan siklon, yang mendorong peralihan ke pangan impor olahan sehingga memperburuk malnutrisi dan penyakit tidak menular. Ketangguhan sistem pangan dinilai penting untuk ketahanan pangan, kesehatan, dan pembangunan jangka panjang. Riset dari Cook Islands (Selane Tairea dan tim) menempatkan petani di pusat riset untuk memahami bagaimana petani Rarotonga beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Pasar Modal Alam: Celah Informasi antara Ketahanan Pangan dan Net Zero
Caitlin McConnel, petani sekaligus penasihat hukum, menekankan bahwa ketepatan istilah sangat penting. Menurutnya, peluang dan risiko mitigasi perubahan iklim berawal dan berakhir pada dua hal: supremasi hukum dan ketahanan pangan. Ia mengingatkan agar skema pasar karbon dan modal alam tidak mengorbankan produksi pangan atau hak petani karena informasi yang tidak lengkap.
Pelajaran untuk Indonesia
Konferensi ini menegaskan bahwa adaptasi dan mitigasi harus berjalan bersama tanpa mengorbankan ketahanan pangan. Bagi Indonesia, beberapa peluang aksinya antara lain perluasan AWD dan varietas umur pendek pada padi, agroforestri dan silvopastura, efisiensi pupuk nitrogen, layanan informasi iklim per komoditas, serta kebijakan kredit karbon yang adil bagi petani.
Sumber Materi
Seluruh materi berasal dari Crawford Fund Annual Conference 2025, Parliament House, Canberra, 11–12 Agustus 2025:
- Glenn Denning (Columbia University). Achieving Universal Food Security in an Adversely Changing Climate (Keynote).
- Aditi Mukherji (ILRI/CGIAR). Climate Change Impacts on Food and Water Systems in Asia and Africa and Pathways to Resilience.
- Richard Eckard (The University of Melbourne). Session 2: Can We Feed the World with Net Zero Emissions?
- Ando M. Radanielson. Low Emissions Rice and Way Forward for Sustainable Agri-food System.
- Tyron Venn (The University of Queensland). Carbon and Financial Performance of Silvopastoral Systems.
- Leanne Webb & Rebecca Darbyshire (CSIRO). Building Agricultural Resilience to Climate Change Impacts: Two Projects in Australia and the Pacific.
- Graham Sem (University of Papua New Guinea). Securing Our Future: Building Resilient Agrifood Systems in the Pacific Islands.
- Selane Tairea dkk. (Te Puna Vai MÄrama, Cook Islands Centre for Research). How Rarotonga Growers Adapt to Climate Change.
- Caitlin McConnel. Natural Capital Markets: The Information Gap between Food Security & Net Zero.
Rujukan dalam materi: IPCC AR6 (WGII dan Synthesis Report); SOFI 2025; Rosa & Gabrielli (2023); Global Methane Pledge; Denning & Jayasuriya (2023), Nature Food.
Posting Komentar untuk "Crawford Fund Conference 2025: Ketahanan Pangan, Dampak Iklim, dan Jalan Menuju Net Zero"