Peran Serangga
Serangga adalah kelompok makhluk hidup paling beragam di bumi. Para ilmuwan memperkirakan sekitar empat dari lima jenis hewan di daratan adalah serangga. Bagi petani, banyak di antaranya adalah sahabat, bukan musuh:
- Penyerbuk – lebah, kupu-kupu, dan lalat bunga membantu bunga cabai, tomat, mentimun, atau kopi menjadi buah.
- Musuh alami hama – kepik (kumbang koksi) memangsa kutu daun, capung menyambar wereng dan ngengat, tawon kecil (parasitoid) bertelur di dalam tubuh ulat hama.
- Pengurai – kumbang kotoran dan serangga tanah lainnya mengubah sisa tanaman dan kotoran ternak menjadi hara yang menyuburkan tanah.
Nilainya tidak main-main. Penelitian di Amerika Serikat memperkirakan jasa serangga liar (penyerbukan, pengendalian hama, penguraian, dan lain-lain) bernilai sekitar 57 miliar dolar AS per tahun. Artinya, kalau serangga sahabat ini hilang, petani harus membayar mahal untuk menggantikan "pekerjaan gratis" mereka.
Mengapa Serangga Mudah Terganggu oleh Perubahan Iklim?
Serangga adalah hewan berdarah dingin (istilah ilmiahnya ektoterm). Suhu tubuhnya ikut suhu udara di sekitarnya. Karena itu, suhu sangat menentukan seberapa cepat serangga bergerak, makan, tumbuh, berkembang biak, dan bertahan hidup.
Ada temuan penting yang sangat relevan bagi Indonesia, yaitu serangga di daerah tropis umumnya sudah hidup sangat dekat dengan batas suhu terbaiknya. Jadi, kenaikan suhu yang kecil saja bisa berdampak buruk bagi mereka, lebih buruk daripada serangga di negara beriklim dingin.
Selain panas, perubahan iklim juga mengacaukan "jadwal" alam. Misalnya, musuh alami bisa muncul terlambat dibanding hamanya, atau lebah keluar ketika bunga tanaman belum mekar. Dalam bahasa ilmiah ini disebut pergeseran fenologi yang membuat pemangsa–mangsa atau serangga–tanaman tidak lagi "bertemu" pada waktu yang tepat.
Serangga Mana yang Paling Terancam?
Menurut kajian, ada dua hal utama yang menentukan apakah suatu jenis serangga mampu bertahan:
- Kemampuan bertahan di tempat – serangga yang tidak "pilih-pilih" (bisa hidup di banyak tempat, makan banyak jenis makanan, dan tahan berbagai suhu) lebih kuat menghadapi perubahan.
- Kemampuan pindah – serangga yang pandai terbang jauh bisa pindah ke tempat yang lebih sejuk. Sebaliknya, serangga yang lemah terbang atau tidak bersayap mudah terjebak dan hilang.
Masalahnya menjadi jauh lebih berat bila perubahan iklim datang bersamaan dengan rusaknya tempat hidup serangga, misalnya pembukaan lahan, pematang yang dibersihkan total, atau penyemprotan pestisida berlebihan. Para ahli menyebut gabungan tekanan ini sebagai "racikan mematikan" bagi keanekaragaman hayati.
Tiga Strategi Pelestarian Serangga
Arribas dkk. (2017) membagi strategi pelestarian serangga menjadi tiga. Berikut padanannya di lahan petani:
1. Jaga tempat yang sudah ada (pengelolaan setempat)
Untuk serangga yang tidak bisa pindah jauh, kuncinya adalah membuat tempat tinggalnya tetap nyaman. Ilmuwan menyebutnya menjaga iklim mikro, yaitu suhu dan kelembapan di sekitar tanaman.
- Pertahankan atau tanam pohon peneduh di pinggir lahan dan dekat sumber air.
- Gunakan mulsa (jerami, daun kering) agar tanah tidak terlalu panas dan kering.
- Kurangi tekanan lain: semprot pestisida hanya bila perlu dan sesuai hasil pengamatan, bukan berdasarkan jadwal.
2. Sambungkan tempat hidup (koridor serangga)
Serangga yang bisa pindah membutuhkan "jembatan" untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Penelitian menunjukkan serangga bergerak di sepanjang sisa-sisa vegetasi alami seperti jalur pepohonan.
- Biarkan pematang dan pinggiran lahan ditumbuhi bunga liar atau tanam bunga seperti kenikir, bunga matahari, dan wijen. Bunga ini menjadi tempat makan dan berlindung bagi musuh alami hama.
- Buat pagar hidup dan jangan menebang habis semak di tepi sungai atau saluran irigasi.
- Bekerja sama dengan tetangga sehamparan agar "jembatan hijau" ini tersambung antarlahan.
3. Amati dan catat (pemantauan)
Para ahli menekankan pentingnya pemantauan rutin dan pengelolaan adaptif, yaitu menyesuaikan tindakan berdasarkan hasil pengamatan. Untuk petani, caranya sederhana:
- Seminggu sekali, catat serangga yang terlihat di lahan: hama apa, musuh alami apa, berapa banyak kira-kira.
- Catat juga suhu atau kondisi cuaca. Dari catatan beberapa musim, petani bisa melihat pola, misalnya kapan hama mulai naik ketika kemarau panjang.
- Bagikan catatan dengan kelompok tani atau penyuluh agar keputusan pengendalian lebih tepat.
Kawasan Lindung Saja Tidak Cukup
Kajian ini juga menyoroti bahwa taman nasional dan kawasan lindung tidak selalu mampu menyelamatkan serangga, karena iklim di dalam kawasan itu pun ikut berubah, sementara batas kawasannya tetap. Karena itu, lahan pertanian di luar kawasan lindung, termasuk sawah dan kebun milik petani, ikut berperan penting sebagai tempat singgah dan jalur perpindahan serangga.
Kesimpulan
Serangga adalah "pekerja gratis" di lahan kita: menyerbuki bunga, memakan hama, dan menyuburkan tanah. Perubahan iklim mengancam mereka, terutama di daerah tropis seperti Indonesia, dan ancaman ini makin berat bila tempat hidup mereka rusak. Kabar baiknya, langkah sederhana seperti menanam peneduh, membiarkan bunga di pematang, mengurangi pestisida, dan rajin mengamati lahan sudah sejalan dengan anjuran para ilmuwan. Menjaga serangga sahabat berarti juga menjaga panen kita di masa depan.
Sumber Rujukan
- Arribas, P., Abellán, P., Velasco, J., Millán, A., & Sánchez-Fernández, D. (2017). Conservation of insects in the face of global climate change. Dalam S. N. Johnson & T. H. Jones (Ed.), Global Climate Change and Terrestrial Invertebrates (hlm. 349–367). Chichester: John Wiley & Sons.
- Losey, J. E., & Vaughan, M. (2006). The economic value of ecological services provided by insects. BioScience, 56(4), 311–323.
- Deutsch, C. A., Tewksbury, J. J., Huey, R. B., Sheldon, K. S., Ghalambor, C. K., Haak, D. C., & Martin, P. R. (2008). Impacts of climate warming on terrestrial ectotherms across latitude. Proceedings of the National Academy of Sciences, 105(18), 6668–6672.

Posting Komentar untuk "Serangga dan Perubahan Iklim"